Skip to main content

Kelinci Bertelinga Satu

Pada Zaman dahulu kala, di suatu desa kecil di Negara Jepang tinggalah sepasang kakek dan nenek. Kakek adalah seorang yang sangat baik hati dan pekerja keras. Sebaliknya nenek adalah seorang penggerutu dan senang mencaci maki, sikapnya juga kasar dan buruk. Itulah sebabnya kakek lebih suka menghabiskan waktunya dengan bekerja di ladang dari pagi hingga petang. Mereka tidak dikaruniai anak, tapi kakek memiliki seekor kelinci yang selalu menghiburnya. Dia sangat lucu dan diberi nama Coki. Kakek sangat menyayanginya. Setiap petang sepulangnya dari ladang, kakek akan membuka kandang Coki, membiarkannya berlarian di dalam rumah, lalu mengajaknya bermain, berbicara, dan mengajarinya trik-trik yang dengan cepat dipelajarinya.
Suatu hari, saat kakek pergi bekerja, nenek mulai membereskan rumah. Kemarin nenek sudah menyiapkan bubur tepung beras untuk melicinkan pakaian yang sudah dicuci. Bubur itu disimpannya di atas meja. Tapi kini mangkuk buburnya telah kosong. Rupanya kakek lupa menutup kandang Coki, sehingga dia lari di sepanjang rumah dan memakan bubur tepung beras nenek. Saat si nenek kebingungan mencari siapa yang menghabiskan buburnya, Coki datang menghampiri nenek. Dia membungkuk memberi hormat lalu ucapnya: “Sayalah yang memakan bubur tepung beras nenek. Saya pikir itu adalah makanan untukku. Saya mohon maaf.
Nenek sangat marah mendengar pengakuan si kelinci. Memang nenek tidak pernah menyukai Coki. Baginya keberadaan Coki hanya mengotori rumah saja. Ini adalah kesempatan si nenek untuk melampiaskan kemarahannya. Maka keluarlah cacian dari mulut nenek.
Tidak cukup sampai disitu nenek yang kalap merenggut Coki yang malang dan memotong telinganya hingga putus. “Ini adalah pelajaran buatmu!”. Sekarang pergilah dari sini! Aku tak mau melihatmu lagi!” Coki hanya bisa menangis menahan sakit, dan lari jauh ke arah hutan.
Sore harinya kakek pulang dari ladang. Seperti biasa kakek menghampiri kandang Coki untuk mengajaknya bermain. Tapi ternyata kandang itu sudah kosong. Dicarinya Coki di sekeliling rumah dan dipangilnya, namun Coki tidak juga muncul. Kakek merasa yakin bahwa neneklah yang telah membuat Coki pergi. Maka kakek pun menghampiri nenek dan bertanya: “Kemana Coki? Kau pasti tahu dimana dia.” “Kelincimu?” kata nenek, “Aku tidak tahu dimana dia. Aku tidak melihatnya sepanjang hari ini. Oh, mungkin dia jenis kelinci yang tidak tahu berterima kasih. Makanya dia kabur dan tak ingin kembali meskipun kau sangat menyayanginya.” Kakek tentu saja tidak percaya dengan perkataan nenek. Dia memaksanya untuk berbicara jujur. Akhirnya nenek mengaku telah mengusir Coki dan memotong telinganya.
Itu hukuman karena dia telah berbuat nakal” kata nenek. “Kenapa kau begitu kejam?” kata kakek. Dia sebenarnya sangat marah, tapi dia terlalu baik untuk menghukum istrinya yang kejam. Namun dia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Coki yang pasti sangat menderita. “Betapa malangnya Coki. Dia pasti kesakitan. Dan tanpa lidahnya dia mungkin tidak bisa berkicau lagi,” pikir kakek. Dia bertekad untuk mencari Coki sampai ketemu besok pagi.
Esoknya, pagi-pagi sekali kakek sudah berkemas dan bersiap pergi untuk mencari Suzume. Dia pergi ke bukit lalu ke dalam hutan. Di setiap rumpunan bambu yang ditemuinya, dia akan berhenti dan mulai memanggilnya:
“Dimana oh dimana kelinciku yang malang,
Dimana oh dimana kelinciku yang malang”
Kakek terus mencari Coki tanpa kenal lelah. Dia bahkan lupa kalau perutnya belum diisi sejak pagi. Sore harinya, sampailah kakek di rumpunan bambu yang rimbun. Dia pun mulai memanggil lagi:
“Dimana oh dimana kelinciku yang malang,
Dimana oh dimana kelinciku yang malang”
Dari rimbunan bambu tersebut, keluarlah Coki. Dia membungkukan kepalanya, memberi hormat pada kakek. Kakek senang sekali bisa menemukan Coki, apalagi ternyata lidah Coki telah tumbuh lagi sehingga dia tetap bisa berkicau. Coki mengajak kakek untuk mampir ke rumahnya. Ternyata Coki memiliki keluarga dan mereka tinggal di sebuah rumah seperti layaknya manusia.
“Coki pasti bukan kelinci biasa,” pikir kakek. Kakek mengikuti Coki memasuki rumpunan bambu. Rumah Coki ternyata sangat indah. Dindingnya terbuat dari bambu berwarna putih cerah. Karpetnya sangat lembut, bantal yang didudukinya sangat empuk dan dilapisi sutra yang sangat halus. Ruangannya sangat luas dan dihiasi ornamen-ornamen yang cantik. Kakek disuguhi berbagai makanan dan minuman yang sangat lezat. Kakek juga diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga Coki. Mereka semua sangat berterima kasih pada kakek yang telah merawat Coki dengan baik. Sebaliknya kakek pun memohon maaf atas perlakuan istrinya yang kejam terhadap Coki.
Waktu berlalu tanpa terasa. Malam pun semakin larut. Akhirnya kakek meminta diri dan berterima kasih atas sambutan keluarga Coki yang hangat. Coki memohon supaya kakek menginap satu atau dua malam, namun kakek bersikeras untuk pulang karena pasti nenek kebingungan mencarinya. Kakek berjanji akan sering-sering mengunjungi Coki lain waktu. Sebelum pulang Coki memaksa kakek untuk memilih kotak hadiah untuk dibawanya pulang. Ada dua buah kotak yang ditawarkan. Satu kecil dan satu lagi besar. Kakek memilih kotak kecil. “Aku sudah tua dan lemah,” katanya. “Aku tidak akan kuat jika harus membawa kotak yang besar.”
Coki dan keluarganya mengantarkan kakek sampai keluar dari rumpunan bambu dan sekali lagi membungkukan kepalanya memberi hormat.
Setibanya di rumah, nenek langsung mencecarnya: “Kemana saja seharian? Kenapa begitu malam baru pulang?” tanyanya. Kakek mencoba menenangkannya dan memperlihatkan kotak yang didapatnya dari Coki. Kakek juga menceritakan pertemuannya dengan Coki. “Baiklah!” kata nenek. “Sekarang cepat buka kotak itu! Kita lihat apa isinya.” Maka mereka lalu membuka kotak itu bersama-sama. Betapa terkejutnya mereka, ternyata kotak itu penuh berisi uang emas, perak dan perhiasan-perhiasan yang sangat indah. Kakek mengucap syukur berkali-kali atas anugerah itu. Tapi nenek yang serakah malah memarahi kakek karena tidak memilih kotak yang besar. “Kalau kotak yang kecil saja isinya bisa sebayak ini apalagi kotak yang besar,” teriaknya.
Esok paginya setelah memaksa kakek untuk menunjukkan jalan ke tempat Coki, nenek pergi dengan penuh semangat. Kakek mencoba melarangnya, namun sia-sia saja. Setelah melewati bukit dan masuk ke dalam hutan, sampailah si nenek di tepi rimbunan bambu, maka dia pun mulai memanggil:
“Dimana oh dimana kelinciku yang malang, Dimana oh dimana kelinciku yang malang” Coki pun keluar dari rimbunan bambu dan membungkukan kepalanya ke arah nenek. Tanpa membuang waktu dan tanpa malu nenek berkata:
“Saya tidak akan membuang waktumu. Aku datang kesini hanya untuk meminta kotak yang kemarin ditolak oleh kakek. Setelah itu aku akan pergi.” Coki memberikan kotak yang diminta, dan tanpa mengucapkan terima kasih, nenek segera meninggalkan tempat itu. Kotak itu sangat berat. Dengan terseok-seok nenek memanggulnya. Semakin lama kotak itu semakin berat, seolah-olah berisi ribuan batu. “Kotak ini pasti berisi harta karun yang sangat banyak,” pikir nenek. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui isi kotak tersebut. Maka dia menurunkan kotak itu dari punggungnya dan lalu membukanya. Wuuuuush……!!! Dari dalam kotak itu keluar ribuan makhluk yang menyeramkan dan mengejar nenek yang langsung lari terbirit-birit. Beruntung nenek bisa sampai di rumahnya meski jantungnya serasa mau putus. Kepada kakek dia menceritakan apa yang dialaminya. “Itulah hukuman bagi orang yang serakah,” kata kakek. “Semoga ini menjadi pelajaran buatmu.” Sejak saat itu nenek tidak pernah lagi mengeluarkan kata-kata kasar dan selalu berlaku baik pada orang lain. Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Mengapa Saya Memilih SMAN 68?

     Saya memilih SMAN 68 karena persentase murid yang masuk PTN melalui jalur undangan lebih besar dari SMA-SMA lainnya di Jakarta Pusat. Saya juga masuk SMA 68 karena pergaulannya jauh lebih baik dari sekolah lain juga. Dan oleh karena itu saya harus belajar dengan sangat giat agar nilai saya tidak kalah dari teman teman yang lain.           Jikalau saya tidak dapat jalur undangan, masih ada jalur SBMPTN, dengan belajar yang maksimal saya masih mungkin mendapatkan PTN yang saya ingin dapatkan. Saya memilih SMA ini juga karena ada ekskul dan lintas minat yang saya minati yaitu bulu tangkis dan Bahasa Perancis.      Setelah saya masuk SMA 68, saya tahu bahwa SMA 68 aturannya sangat ketat hingga jika saya teelambat 15 menit saja saya dapat poin dan dipulangkan atau tidak bisa memasuki lingkungan sekolah. Jika saya masih "nongkrong" di area tertentu lebih dari jam 4 sore dan ketahuan oleh para guru atau ora...

10 Kunci Sukses Yang Menjadikan Jack Ma Orang Terkaya Di China

Pendiri e-commerce Alibaba, Jack Ma pernah menjadi orang terkaya di China versi majalah forbes pada tahun 2014 dengan total kekayaan Rp. 289,8 T. Sekarang ia turun peringkat menjadi nomor 2 dikalahkan oleh Ma Huateng (Pimpinan Tencent Holdings). Berikut merupakan 10 rahasia sukses versi Jack Ma: 1. Terbiasa dengan penolakan 2. Jagalah mimpi mimpimu 3. Fokus pada kultur 4. Abaikan para haters 5. Carilah inspirasi 6. Fokus, fokus, dan fokus 7. Branding itu penting 8. Pelanggan nomor satu 9. Jangan pernah mengeluh, carilah kesempatan 10. Punya passion

Semut dan Belalang

Musim panas yang cerah dan hangat membuat belalang menari, menyanyi dan bermain dengan biola kesayangannya hampir tiap hari. Ia tidak ingin bekerja atau mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi musim dingin. Tidak terlintas di pikiran belalang bahwa hari-hari yang indah di musim panas ini akan segera berakhir, berganti menjadi musim dingin, dimana hujan akan sering turun dan udara yang sangat dingin. Belalang yang riang ini ingin berbagi kebahagian kepada semut, sehingga dia mengundang semut untuk bersenang-senang bersama di rumah belalang. Semut pun menolak permintaan belalang dengan halus, “Maaf, saya masih harus bekerja keras agar saat musim dingin saya memiliki candang makanan dan tempat tinggal yang lebih hangat." Belalang pun menanggapi penolakan yang dilakukan semut,"Berhentilah memikirkan terlalu banyak hal, mari kita bernyanyi dan menari bersama saja, agar perasaanmu lebih baik. Ayolah kita harus menikmati hidup kita!" Setelah mendengar kata-kata tersebut ...